Tahukah kamu bahwa stunting itu erat kaitannya dengan asupan gizi. Makanan asupan gizi harus dipenuhi oleh para orang tua agar anak memiliki gizi seimbang yang diperlukan tubuh untuk tumbuh dan beraktivitas sehai-hari.

Bagaimana bisa bahwa makanan dapat digunakan manusia untuk beraktivitas sehari-hari?

Makanan memiliki kandungan energi kimia di dalamnya. Energi kimia tersebut akan diuraikan melalui proses metabolisme sehingga energi bisa digunakan.

Apa itu Metabolisme ?

Metabolisme merupakan serangkaian proses biokimia kompleks yang terjadi di dalam sel organisme, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan untuk mengubah makanan menjadi energi yang digunakan untuk berbagai kegiatan sel dan tubuh. Proses metabolism dibagi menjadi dua yaitu katabolisme dan anabolisme.

1.  Katabolisme merupakan reaksi untuk menghasilkan energi dengan cara mengurai senyawa seperti pemecahan glukosa menjadi piruvat oleh proses respirasi seluler. Proses ini menghasilkan energi yang dapat digunakan oleh tubuh, contohnya yaitu pemecahan karbohidrat menjadi glukosa atau pemecahan lemak menjadi asam lemak dan respirasi.

2.  Anabolisme merupakan proses Pembangunan zat-zat kompleks dari molekul-molekul yang lebih sederhana. Proses ini membutuhkan energi dan nutrisi untuk memperbaiki jaringan, memperbaruhi sel-sel, dan mendukung pertumbuhan. Contoh prosesnya yaitu fotosintesis dan kemosintesis.

Gambar stunting (sumber: dinkes.wonogirikab.go.id)

 

Apa itu stunting?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) stunting adalah gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan gizi buruk, terserang infeksi yang berulang, maupun stimulasi psikososial yang tidak memadai. Umumnya anak yang menderita stunting akan terlihat proporsional, akan tetapi jika dibandingkan dengan teman seusianya atau sebayanya dia akan terlihat lebih pendek atau terlihat  lebih kerdil. 

Berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka stunting di Indonesia tercatat sebesar 21,6% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023). Angka ini masih tergolong cukup tinggi dibandingkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yaitu sebesar 19% di tahun 2024. Stunting menjadi masalah gizi dengan prevalensi tertinggi jika dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.

Gambar cegah stunting (sumber: novitania.com)

Stunting pada anak perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, terganggunya perkembangan mental, kesulitan dalam berbicara, dan rendahnya imun ketahanan tubuh pada anak sehingga sanat mudah terinfeksi virus maupun bakteri. Dampak dari stunting dalam jangka pendek dapat berupa penurunan kemampuan belajar dan kognitif (apabila tidak ditangani dengan baik) (Nirmalasari, 2020). Balita maupun anak yang terkena stunting akan cenderung rentan terkena penyakit dan apabila sudah dewasa dapat bersiko untuk mengidap penyakit degenerative (Jupri, dkk. 2022).

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang gizi yang baik juga kurang. Banyak orang tua di Indonesia belum sepenuhnya menyadari pentingnya makanan bergizi dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pola makan seimbang sehingga anak0anak tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dengan baik.

Pola makan ini digunakan tubuh untuk meningkatkan energi sehingga dapat melakukan aktivitas dengan baik.  Pengetahuan tentang kebutuhan energi anak disetiap harinya harus diketahui oleh orang tua sehingga orang tua dapat mencukupi gizi makanan dengan kalori yang tepat sesuai dengan jumlah energi yang diperlukan oleh anak. Bacalah link berikut ini untuk memahami energi pada makanan 


Daftar Pustaka 

Jupri, A., Husain, P., Putra, A. J., Sunarwidi, E., & Rozi, T. (2022). Sosialisasi Kesehatan Tentang Stunting, Pendewasaan Usia Pernikahan dan Pengenalan Hak Kesehatan Reproduksi Remaja (HKSR). Alamtana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Unw Mataram3(2).

Pebriandi, Fatriansyah, A., Rizka, D., Indahsari, L. N., Yulanda, N. O., & Nurianti. (2023). Sosialisasi Pencegahan Stunting pada Masyarakat Desa Simandolak Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 53-57.

Nirmalasari, N. O. (2020). Stunting Pada Anak: Penyebab dan Faktor Risiko Stunting di Indonesia. Qawwam14(1), 19-28.

 

Coba selesaikan permasalahan berikut ini!

1.     Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto tercatat memiliki kasus stunting tertinggi pada bulam Februari 2023. Kasus stunting di desa tersebut mencapai 98 kasus yang menyasar anak di bawah lima tahun (balita). Kasus stunting menjadi trending topic di Indonesia. Kekurangan gizi akan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan anak yang disebut dengan stunting. Para masyarakat khususnya ibu harus memiiliki pengetahuan yang luang tentang pola makan anak. Kebutuhan energi pada anak harus dapat dipenuhi melalui gizi makanan yang dimakan oleh anak-anak. Salah satu warga di desa tersebut beranam bu Aca dan dia memiliki anak laki-laki berusia 4 tahun dengan tinggi badan 85 cm, berat badan 14 kg, dan sedang melakukan aktivitas bersepeda (sedang). Ia sangat khawatir dengan kondisi anaknya karena setelah diperika, ternyata anaknya termasuk anak yang stunting. Dengan demikian, coba carikanlah solusi untuk Bu Aca dengan menjawab pertanyaan berikut ini!

a)    Jelaskan apa itu stunting (gunakan sumber yang tepercaya, misal jurnal)

b)    Apa yang harus dilakukan bu Aca untuk memenuhi gizi anaknya?

c)    Buatlah daftar makanan 4 sehat yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah-buahan sesuai dengan kebutuhan energi anak bu Aca! Daftar kalori makanan dapat dilihat pada link daftar kalori makanan

2.    Mengkonsumsi gizi berfungsi sebagai penentuan tingkatan kesehatan tubuh yang biasa disebut dengan status gizi (Septiawati dkk., 2021). Apabila terjadi gizi kurang pada balita tidak hanya menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan produktifitas dimasa dewasa. Pada tingkat rumah tangga, status gizi dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga untuk menyediakan makanan yang cukup baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, pola asuh anak, pengetahuan gizi, dan faktor sosio-budaya lainnya. Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara konsumsi pangan dengan status gizi dan kesehatan masyarakat. Banyaknya status gizi kurang mencerminkan masalah yang besar pada sumber daya manusia di Indonesia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita yang berisiko menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Jumlah kasus stunting di Inondeia tahun 2019 mencapai 27,67% dan angka itu berhasil ditekan dari 37,8% di tahun 2013 (Prastiwi, 2019). Hal tersebut dikarenakan prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2018 mencapai angka 30,8% (Wulandari & Muniroh, 2020). Tingginya angka balita stunting di Indonesia menandakan bahwa hal tersebut masih menjadi permasalahan kesehatan nasional.

a.  Berdasarkan kasus tersebut, identifikasilah masalah utama yang ada di dalam berita tersebut!

b.  Sebut dan jelaskan penyebab dan dampak yang akan timbul dari permasalahan tersebut! (Carilah sumber-sumber yang relevan dan valid)

c.  Bagaimana solusi yang akan kamu lakukan saat di Indonesia mengalami permasalahan tersebut? (Buatlah minimal 3 upaya)

d. Menurutmu sebagai siswa, solusi manakah yang akan kamu terapkan dalam lingkunganmu untuk mengurangi masalah tersebut? Apabila terdapat anak perempuan dengan usia 10 tahun dengan berat badan 22 kg, tinggi 120 cm, dan sering melakukan aktivitas sedang, berapakah taksiran kebutuhan energi sehari anak tersebut? Buatlah daftar makanan 4 sehat yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan sesuai dengan kebutuhan energi anak tersebut! Daftar kalori makanan dapat diakses melalui link daftar kalori makanan

e.   Evaluasilah solusi yang sudah kamu buat dan simpulkanlah permasalahan beserta solusinya!